Warung Tenda Filosofi Bertahan dari Krisis

26 April 2022 by Opini 355 Views

 

Dr. Encep Saepudin, S.E., M.Si.

Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Prodi HES)

 

Ratusan motor parkir rapi di halaman depan kantor pusat Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) setiap sore selama bulan Ramadhan. Sejumlah mobil pun turut parkir. Para penumpangnya menyerbu ratusan gerobak yang menjajakan beraneka macam jajanan makanan dan minuman. Ada juga produk lain yang meramaikannya, seperti agen motor, properti, busana, dan sebagainya.

Memang ratusan gerobak milik pelaku usaha mikro kecil menutup satu ruas jalan masuk di komplek Kampus I setiap sore selama bulan Ramadhan 1443 H ini. Sebagian besar gerobak yang bertenda biru itu menjajakan, di antaranya sempol, mendoan, bakso, risol, burger, cilok, es buah, sop buah, siomay, ayam goreng, gorengan, dan masih banyak lagi.

Dalam sambutan pembukaan Pasar Ramadhan UMP, Rektor UMP, Dr. Jebul Suroso mengatakan bahwa UMP memberikan ruang bagi pelaku mikro dan kecil untuk mendapatkan berkah Ramadhan dengan membuka dagangannya. Produk dagangannya harus berkualitas bagus, baik, serta enak agar laris.

Kegiatan Pasar Ramadhan UMP ini mengingatkan kita kembali pada 24 tahun silam, yaitu krisis moneter (krismon) 1998. Krisis moneter bagi negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, dimana mata uang negara tertentu melemah terhadap dolar AS. Saat itu, nilai tukar rupiah melemah dari Rp2.500 per dolar As menjadi Rp.16.600 per dolar pada tahun 1997-1998.

Krismon menumbuhkan warung tenda disejumlah titik di Ibukota Jakarta. Warung tenda merupakan upaya kalangan artis dan tokoh popular saat itu untuk bertahan hidup pasca krisis moneter 1998 dan kemudian melebar menjadi krisis ekonomi, sosial, dan politik.

Bahkan warung tenda menjalar ke berbagai kota di Indonesia. Warung tenda adalah warung yang menjajakan makanan dan minuman, seperti nasi goreng, gorengan, pecel ayam, dan lain-lain yang dibuka sejak sore hingga malam hari. Yang menjadi chef-nya adalah orang-orang terkenal di masanya hingga orang pada umumnya.

Kemudian pecah kembali krisis pada tahun 2008 yang disebabkan perusahaan Lehman Brothers Holding Incorporation (LBHI), sebuah bank investasi di Amerika Serikat, bangkrut. Perusahaan ini berani menawarkan kredit perumahan atau subprime mortgage kepada siapa pun tanpa perlu pengalaman kredit sehingga mengundang risiko besar. Risiko ini menjadi kenyataan sehingga melumpuhkan sistem keuangan di AS.

Salah satu dampak negatif krisis adalah Amerika Serikat sebagai pasar tradisional dunia tidak mampu menyerap produk-produk dari berbagai negara dunia. Akibatnya sejumlah negara, termasuk Indonesia, mengalami penurunan cadangan devisa.

Seorang direksi perusahaan IT sampai mengkhawatirkan bila tidak segera mencari pasar baru untuk ekspor akan berdampak produk dalam negeri akan menumpuk tidak laku terjual. Padahal mencari pasar baru tidak mudah karena negara-negara Eropa juga mengalami penurunan kegiatan ekonomi pula. Sektor keuangan dan perdagangan dalam lingkup global tertekan.

Krisis Eropa pada tahun 2010 menyebabkan Yunani mengalami kondisi paling parah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Negara ini mengalamai gagal bayar karena utang pemerintah mencapai 406 miliar dolar AS atau setara 115 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Menariknya, rakyat dari negeri Dewa-Dewi ini menolak berhemat untuk minum kopi meski negerinya babak belur dihantam krisis. Kedai-kedai kopi tetap buka dan ramai dikunjungi warga untuk menyeruput kopi.

Budaya mengopi membawa dampak positif terhadap kegiatan perekonomian. Mengopi akan menumbuhkan sikap positif untuk mengurai persoalan besar yang dihadapinya.

Begitu pula dengan warung tenda yang digelar di lingkungan UMP. Setidaknya ini menumbuhkan optimis bahwa masa depan akan lebih baik dari sebelumnya. Gerobak dengan tenda warna warni menjadi denyut ekonomi di akar rumput.

Apalagi komitmen Pasar Ramadhan tidak akan berakhir karena akan berlanjut kembali dengan Sunday Morning (Sunmori) UMP. Kalau pasar Ramadhan digelar pada sore hingga malam hari, sedangkan Sunmori UMP digelar setiap Ahad pagi.

Peminatnya melimpah. Bahkan sudah banyak yang ketidakbagian tempat. Pertanda antusias warga untuk memanfaatkan peluang ini sangat tinggi.

Pasar Ramadhan dan Sunmori menjadi upaya masyarakat akar rumput bangkit dari krisis ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19. Memang krisis tahun 2020 yang melumpuhkan mobilitas manusia dan barang disebabkan virus Covid-19. Virus ini menyebabkan berbagai negara melakukan lock down atau pembatasan kegiatan manusia. Bahkan, setiap negara menutup diri dari kedatangan oran asing.

Sedangkan di tingkat masyarakat pun dibuat sekat-sekat selama dua tahun terakhir. Kita hanya bisa berputar-putar yang tidak jauh dari lingkungan rumah.

Kebijakan ini meningkatkan model perdagangan barang dan jasa, yaitu e-commerce. Semua barang sembako, fashion, hobi, jasa, kesehatan, properti, otomotif, dan lainnya melalui belanja online. Nilai transaksi e-commerce atau belanja online terus tumbuh dari Rp42,2 triliun (2017), Rp105,6 triliun (2018), Rp 266 triliun (2020), dan Rp395 triliun (2021).

Kini, semua sudah bebas bersyarat. Sudah vaksin 1, 2, dan booster. Penerapan 5M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Optimis menyongsong masa depan yang lebih baik. Krisis ekonomi adalah keniscayaan. Membahas krisis, siklus krisis makin pendek durasinya, hampir 10 tahun sekali. Dalam 100 tahun terakhir, dunia pernah mengalami delapan kali krisis, yaitu Great Depression AS (1930), krisis Jerman (1929-1939), krisis Jepang (1980), krisis nilai tukar Peso Meksiko (1990), krisis ekonomi Asia (1997-1998), krisis keuangan Rusia dan Brazil (1990), krisis subprime mortgage AS (2008), dan krisis Eropa (2010).

Warung tenda adalah filosofi mengatasi krisis, yaitu semangat, optimis, inovasi, dan kolaborasi. Tentunya model warung tenda sekarang sudah jauh berkembang dengan konsep gerobak, booth, dan e-commerce. ***

Rate this item
(0 votes)